Loading dulu yah..orang sabar disayang Allah sob :)

Hambatan Komunikasi Dakwah dan Solusinya


 Nahnu du’aat qobla kulli syai’in, ungkapan mulia yang seharusnya menjadi salah satu prinsip hidup setiap muslim dan muslimah ini berarti “kita adalah dai sebelum menjadi apapun”. Sebagai pengikut risalah Nabi Muhammad kita memang harus menjadi penyeru kepada kebaikan apapun identitas social kita. Dakwah yang secara harfiyah berarti menyeru, mengajak, atau memanggil (kepada kebenaran) bukanlah tugas para dai dan ulama semata. Dakwah adalah tugas setiap individu muslim. Hal itu ditunukan oleh banyak dalil baik dari al-Qur’an atau pun Sunnah Nabi Muhammad saw.
OJO LALI....,
Seperti yang telah disebutkan di atas, arti dakwah adalah menyeru kepada kebaikan , dalam hal ini agama Islam. Sebagai “seruan” dakwah tentu saja merupakan proses komunikasi, dimana terdapat komunikator, komunikan, media, dan informasi yang hendak disampaikan. Kalau memakai pengertian Lasswell yang berbunyi Who says What In Which Channel to Whom With What Effect?, maka dakwah dapat dirumuskan begini “seorang dai (kita sudah sepakat bahwa dalam pengertian umumnya, setiap muslim adalah dai) menyampaikan ajaran Islam dengan sarana apa pun yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam sendiri, kepada siapa saja dan efek yang diharapkan adalah orang yang diajak tersebut kembali kepada ajaran Islam demi kebahagiaan dunia dan akhirat”.
Sebagai sebuah proses komuniksi, tentu saja dakwah juga mengalami hambatan komunikasi, entah itu hambatan psikologis, semantic, mekanis dan lain-lain. Dalam tulisan ini saya akan menceritakan kegiatan dakwah (Muballigh Hijrah)  yang saya lakukan di Gunung Kidul tepatnya di kecamatan Rongkop, desa Baran Wetan serta hambatan yang dialami kemudian solusi apa yang saya coba lakukan untuk mengatasinya.  
Muballigh Hijrah adalah salah satu kegiatan yang wajib diikuti oleh tholabah PUTM. Pada kegiatan tersebut para tholabah diutus ke beberapa daerah di DIY, biasanya tholabah PUTM dapat daerah-daerah pelosok di Gunung Kidul atau Kulon Progo. Selain membutuhkan ilmu agama, untuk diterjunkan dalam kegiatan MH seorang tholabah juga harus memiliki kecakapan dalam berinteraksi dengan warga di tempat ia bertugas. Oleh karena itu, tholabah yang baru belum diutus, hanya tholabah senior yang diutus. Namun, dalam kasus saya (dan akngaktan saya), pengutusan ini dilakukan lebih awal sehingga saya yang baru tiga bulan berada di Jawa ini telah diutus ke pelosok Gunung Kidul dimana budaya dan bahasa Jawa masih sangat kental. Itulah pangkal masalahnya, itulah sebab-musabab munculnya hambatan dalam komunikasi dakwah saya, termasuk dalam interaksi keseharian dengan penduduk di sana.
Jika diteropong  dengan perspektif ilmu komunikasi, hambatan yang saya alami adalah hambatan semantic. Penyebabanya jelas, penduduk Rongkop (komunikan dakwah) adalah orang-orang Jawa yang sangat kental Jawanya sedangkan saya (komunikatornya) adalah anak Sulawesi yang baru sekali ini hidup di Jawa, dan tentu saja perbendaharaan kosa kata Jawa saya sangat kurang. Terlebih lagi dalam bahasa Jawa ada yang kromo selain yang ngoko, jika berbicara di forum resmi seperti pengajian, atau dengan mereka yang lebih tua, yang dipakai adalah bahasa kromo. Sedangkan ngoko untuk pergaulan muda-mudi, bisa dikatakan bahasa umum. Fakta ini membuat saya semakin gugup, bagaiman jika saya mencoba berbahsa Jawa tetapi salah dalam pemakaian keduanya? Bisa-bisa saya malah dianggap tidak sopan. Selain itu ada cerita bahwa dulu pernah ada tholabah yang dipulangkan (ditolak) oleh penduduk  salah satu desa di Gunung Kidul gara-gara tidak bisa berbahasa Jawa, dan ia berasal dari Sulawesi!. Maka sempurnalah hambatan semantic ini.
Sebenarnya Baran Wetan tidaklah terlau udik, mayoritas penduduknya terutama jamaah Masjid Umar bin Khattab tempat saya bertugas bisa memahami bahasa Indonesia dan tentu saja bisa meakainya. Tuan rumah atau induk semang saya juga orang yang berpendidikan, beliau adalah pensiunan guru dan istrinya (yang sampai sekarang saya anggaap ibu sendiri) adalah seorang PNS, anak-anaknya juga sarjana dari berbagai universitas di Yogyakarta. Namun fakta ini tidak begitu saja menghilangkan hambatan semantic tadi, karena dalam pengajian atau kultum, juga jika berbicara dengan orang-orang tua dan yang dituakan di dukuh itu memakai bahasa Jawa kromo adalah keniscayaan yang hampir mutlak.
Lalu solusi apa yang saya gunakan untuk mengatasinya?. Sesuai dengan judul tulisan ini, saya menggunakan hambatan itu sebagai solusinya. Maksudnya?. (wah pembaca benar-benar penasaran ya?), jadi saya menggunakan ketidak mampuan saya berbahasa Jawa sebagai siasat untuk mencairkan suasana dan dengan sendirinya penduduk menjadi lupa dengan formalitas bahasa kromo tadi, dan tentu saja mereka menjadi maklum akan keadaan saya. Saya menggunakan “kebodohan” saya itu sebagai joke yang rernyata cukup disenangi warga, baik di dalam forum kajian kultum, ceramah tarwih, subuh, maupun di dalam pergaulan sehari-hari. Baik dengan orang-orang tua, maupun dengan anak-anak muda di Remaja Masjid dan anak-anak kecil di TPA Masjid Umar.
Saya menemukan solusi itu ketika dipersilahkan memperkenalkan diri. Pada “tatap muka” pertama itu saya langsung menekankan betapa saya ini seorang remaja (waktu itu 19 tahun) yang berasal dari sebuah desa di Sulawesi Selatan nun jauh di sana, dan baru tiga bulan hidup di Jogja. Mendengar itu, jamaah pun bisik-bisik dengan kasihan. Trik pertama saya berhasil, membuat mereka simpati dan bahkan jika perlu empati kepada si “pemuda asing” ini.  
Berikutnya saya lalu jujur betapa saya ini benar-benar tidak bisa berbahasa Jawa, jangankan kromo, yang ngoko saja saya buta bisu. Saya lalu menyatakan bahwa saya Cuma bisa menyebutkan iggeh, dan mboten, juga tahu apa artinya mboten ngeros. Mendengar  pengucapan bahasa Jawa yang aneh dari lidah Sulawesi saya, para jamaah sontak tertawa. Nah.,,eureka!!, akhirnya saya kegirangan dalam hati, inilah solusi dari si hanta semantic!. Ternyata solusi dari ketidak mampuan saya berbahasa Jawa adalah ketidak mampuan itu sendiri.
Akhirnya, selama dua puluh satu hari saya hidup di Baran Wetan dan sebisa mungkin berdakwah baik melalui forum resmi, TPA, atau pun  pergaulan sehari-hari seperti nongkrong dengan remaja putra dan putri yang senang datang ke sekitar masjid selama bulan Ramadan. Alhamdulillah hubungan saya dengan warga cukup baik, bahkan ketika hendak pulang, di adakan acara pamitan. Tentu saja semuanya saya lakukan dengan tetap berbahsa Indonesia Selamat tinggal hambatan smantik!!

Masukkan alamat email kamu disini:

Posting Keren Lainnya : Bloggeron

0 komentar:

:f :D :x B-) b-( :@ x( :? ;;) :-B :| :)) :(( =(( :s :-j :-p :-o :-g :-x

Posting Komentar

Daftar Isi Blog-Ku

Diberdayakan oleh Blogger.

Inilah Aku..

Foto saya
Yogyakarta, DIY, Indonesia
mengejar impian sederhana menjadi pecinta semesta terus berusaha menjadi manusia, maklumlah, saya ini separh tanah separuh ruh tuhan menonton dunia dari pojok sejarah

Sering Dibaca

Ayo Berteman