Loading dulu yah..orang sabar disayang Allah sob :)

Tentang Tujuanmu Hidup dan Hidup Seperti Hujan.


Tentang Tujuanmu Hidup dan Hidup Seperti Hujan.

Apa kau percaya bahwa seekor lalat pun punya tujuan penciptaannya?. Maksudku, bukan spesies lalat, tapi satu ekor lalat tertentu, misalnya lalat yang tadi pagi higgap di pojok kamarmu. Anggaplah namanya Elvis. Ya Elvis si lalat dan bukan lalat yang lain, juga bukan seluruh lalat. Apa kau percaya bahwa Elvis si lalat pun punya misi tertentu yang telah diinstallkan Allah ketika menciptakannya?.  Jika kau tida percaya berarti kau menganggap Allah menciptakan Elvis si lalat dengan sia-sia. Dan kita bersama tahu, itu sangat mustahil. Jadi Elvis si lalat pasti punya tujuan penciptaannya sendiri yang berbeda dengan lalat-lalat lainnya, tujuan penciptaan yang hanya  dimiliki Elvis si lalat saja. Bisa saja misinya adalah menyebarakan virus Ebola di Indonesia, hehe, nauzubillah.  Tapi poinnya adalah bahkan Elvis si lalat pun ada tujuannya hidup di dunia ini.
Lalu, jika seekor Elvis saja punya tujuan hidup, maka seorang manusia juga pasti punya tujuan tertentu yang telah ditetapkan Allah. Sekali lagi, bukan sebagai spesies homo sapiens, tapi sebagai seorang, (Yaa anggaplah) Ayub. Maka jawaban menajdi khalifah Allah atau untuk menyembah-Nya tidaklah tepat meskipun benar. Kedua hal itu adalah tujuan bersama kita, common mission. Tujuan kita sebagai manusia. Nah, yang aku maksud adalah tujuan Allah menciptakan kita sebagai seorang individu. Aku sampai sekarang yakin hal seperti itu ada. Pertanyaannya sekarang adalah apa tujuan itu?, atau yang lebih misterius ;  bagaimana kita tahu apa tujuan kita diciptakan?.
Dua pertanyaan di akhir paragraph sebelumnya itu kerap datang bertamu ke pikiranku ketika sedang menunggu pesanan telur goreng (tidak pake cabe yaa Bu…) di warung Lek Edi. Atau kapanpun aku  lagi memikirkannya .Apa kau penasaran apakah aku menemukan jawabannya?. Jika iya maka silakan kecewa, jika tidak yaa mari kita pikrikan bersama. Dan mengapa aku begitu Ge eR menyangkau kau penasanran?. Hehe.  Kawan, aku menuliskan beberapa paragraph ini hanya untuk berbagi kegelisahan, dan mungkin di sini aku akan menawarkan alternative jawaban. Aku berharap kau juga punya alternative jawaban, biar tanda tanya ini kita luruskan jadi tanda seru (kau bisa mengimajinasikannya kan?, tanda tanya yang bengkok seperti kail bajak laut itu kita luruskan jadi tanda seru). Karena jika kita telah menemukan jawabanya alias telah yakin tujuan kita diciptakan Allah apa, kita akan hidup seperti hujan. Hanya mengalir, turun, membasahi, tanpa beban, tanpa pretensi apa-apa.
Menurutku, salah satu cara mengetahui apa tujuan kita diciptakan Allah adalah dengan senantiasa peka terhadap bisik ide. Begini, apa kau pernah  secara tiba-tiba,terpikirkan untuk melakukan sesuatu yang hebat?. Ingin menuliskan sesuatu?. Ingin menliti sesautu?. Ingin memberikan sesuatu pada seseorang?. Dan seterusnya. Pernah?.  Nah untuk versi yang tidak pakai “secara tiba-tiba”, apa yang kau pikirkan ketika sedang mencari judul risalah/skripsimu?. Apa kau terpikirkan untuk meneliti suatu topic?. Ingin menelaah konsep qawwam menurut al-Razi?. Ingin menelaah-kritis tajdidul fiqhnya Jamal al-Banna?. Ini jika study mayor-mu adalah syari’ah atau tafsir hadis, tentu beda lagi bagi mereka yang menceburkan diri ke bidang lainnya. Atau bagi teman-teman aktivis, ingin merintis desa binaan di Gunung Kidul?, ingin membuat aksi berbagi besar-besaran?. 
Semua ide itu, baik yang datang tiba-tiba  maupun yang datang setelah kau mencari wangsit atau inspirasi kemana-mana, baik yang sifatnya jangka pendek ataupun yang jangka panjang, sekali seumur hidup ataupun yang berkala berkelanjutan… semua ide itu, harus kau antisipasi jangan-jangan itulah tujuanmu diciptakan Allah ta’ala dan  baru diilhamkan padamu ketika waktu eksekusinya sudah mendekat. Kecuali kau benar-benar yakin itu adalah ide dari setan, misalnya tiba-tiba kau dibisiki kepalamu sendiri untuk ngutil Silverqueen di Indomaret hehe.
Nah kawan, jagalah ide-ide itu, ikat mereka. Ingat kan pesan Ali bin Abi Thalib penghulunya para pemuda cerdas dan kritis?, ya petuah agung itu “ikatlah ilmu dengan menuliskannya”, ikatlah ide dengan menuliskannya. Sempatkan dirimu untuk mencatat beragam ide yang datang padamu. Karena lagi-lagi siapa tahu semua bisikan itu adalah puzzle bagi tujun ultima kamu ada di Bumi ini. Atau bahkan semuanya saja kita anggap tujuan kita diciptakan.  Dan selama semua itu adalah kebaikan mengapa tidak?.
Semoga dengan berpikir seperti itu, bahwa ide-ide yang muncul dalam benak kita baik ketika sedang menulis skripsi, mengerjakan tugas makalah, laporan, dan seterusnya adalah ilham dari Pencipta kita bahwa itulah tujuan kita diciptakan, kita akan menjalani hidup ini seperti setiap butir tetes hujan yang memang tahu untuk apa ia terjun bebas dari langit ke bumi sehingga ia hanya terjun, datang, membasahi tanpa pretense apa-apa. Dengan begitu, galau dan semacamnya akan hilang. Semogaaa….


Read Full Post
Senin, 23 April 2012 | 2 komentar

Angin ini, Ayah


Angin ini, Ayah


angin tetap berdesir seperti biasa disini.
Tenang, dengan ritme teratur membawa serta isak tegar dari tanah tanah suci ternoda.
Tenang, merobek lengang ini.
Dan angin tetap berdesir seperti biasa.
Sepoi namun kering. Mengingatkan pada hari hari kita. Hari dimana kau mengajariku arti menjadi muslim, menjadi manusia, menjadi ayah.

Dan angin tetap berdesir seperti biasa.
Ranting mati berjatuhan olehnya. Tak sempat melihat bunga meranum jadi buah.
Aku takut melihatnya.

Dan angin masih tetap berdesir tenang.
Namun rinduku membadai sungguh.

Pada Sebuah petang berangin sepoi di Kaliurang, Jogja 07 Agustus 2010 jam 18:56

Read Full Post
Rabu, 11 April 2012 | 1 komentar

SUATU MALAM DI ATAS RANJANG ISTRIKU


Aku telah sampai di batas antara nyata dan mimpi ketika sesuara itu terdengar. Awalnya aku kira suara berupa isakan itu berasal dari alam mimpi, ternyata salah total, istriku memang sedang menangis. Dapat kurasakan badannya yang terguncang  oleh tangis yang ia tahan agar anak kami yang tengah pulas tidak terbangun karenanya.
Segera saja kantuk yang tadi menggelayuti kelopak mataku sirna tak bersisa, digantikan heran dan berikutnya rasa iba lalu sayang berebut memenuhi tabula rasaku. Ada apa ini?. Terakhir kali ia menangis bertahun lalu, ketika ketidak pastian ketentuan Tuhan mengusik kami dengan ragu. Ragu apakah kami memang bisa menyatu. Tapi kini semua telah tercapai, nyaris sempurna. Jadi apa yang membuatnya sesedih ini?. Tak ingin berdebat dengan penasaranku terlalu lama, ia lalu kurangkul. Rambutnya kubelai.
“Dik, kamu menangis?, ada apa?”
Ia memandangku, dan keheranan kedua menamparku. Kantuk benar-benar tandas. Tatapan itu bukan tatapan meminta perlidungan seperti biasanya ketika ia sedih, bukan pula cinta dan sama sekali tidak tampak seperti tatapan sayang. itu adalah tatapan marah, penuh tanya dan curiga. Aku bergidik, ada apa ini?. 
“Mmm ada yang salah?, kamu marah ya ?,”
Pelukanku dilepasnya dengan kasar.
“Abi, katakana dengan jujur, seperti yang Abi  selalu ajarkan pada Kashva dan jamaah pengajian,…”
Perkataannya diputus tangis, dan aku mulai diserang gelisah bukan main. Kejujuran? Mengapa pembahasan yang paling sering aku kaji di pengajian Ahad pagi, juga didikan utamaku pada Kashva anak kami disebut sebut di sini?.  Jangan-jangan… ah adegan-adegan buruk mulai melintas dalam pikiranku. Ya Allah , semga bukan itu. Aku hanya diam, menunggu semuanya menjadi lebih jelas.
“katakana siapa si Sweet Mochi? Hah? Siapa dia Abi?”
Cecarnya sambil tetap menahan suaranya agar tidak terdengar kecuali oleh kami berdua.
“s..sss.. Sweet Mochi??”
Aku mulai bisa membaca arah pembicaraan ini dan  sebab tangisnya malam ini. Kesadaran itu membuat kepalaku serasa dipukul godam berduri dari kerak neraka. Cemas membuatku gugup bahkan tidak bisa berbicara lagi.  Aku tidak suka keadaaan ini, maka aku mencoba mencairkannya, semoga hanya salah paham.
“Sweet Mochi kan mochi manis, itu makanan favoritku hehe.. eh tau nggak waktu di PUTM setiap mas Agus temanku yang dari Sukabumi itu mudik, Abi slalu pesan mochi lho wow uenak banged ”
Cerita murahan itu aku tuttup dengan tawa yang sangat garing. Aku bahkan jadi malu sendiri melihat keadaanku yang menyedihkan dan payah malam ini. Mencoba mengelak dengan membuka pembicaraan tidak bermutu seperti itu. Kemana kemampuan retorikaku?, lari kemana keterampilanku mengolah kata?.
Mendengar aku mencoba mengalihkan pembicaraan dengan cara yang tragis, tatapan istriku semakin tajam. Akh godam berduri dari kerak neraka itu kini bertambah besar sepuluh kali lipat kemudian dihantamkan tepat ke ubun-ubunku.
“Aku tidak sedang bercanda Bi..”
Desisnya, isaknya kini memelan tapi air matanya malah semakin membanjir . Ia bangkit dari peraduan dengan kasar, berjalan cepat ke lemari dan kembali dengan menggenggam sesuatu. Telepon genggamku!.
“Iya Sweet Mochi, dan apa maksud sms-sms ini ustad Ayub ?”
Ia menyodorkan telepon genggam itu, kotak pesannya terbuka. Ah sail!, tadi pagi aku memang lupa membawanya. HP itu pasti tertinggal di meja makan. Istriku pasti menemukannya, tapi ia selalu menghargai privasiku, kenapa kini ia berani membuka-buka kotak pesanku?.
“Awalnya aku mau meliaht nomor-nomor telepon teman-teman dari HP Abi, tapi setelah melihat kontak dengan nama seperti itu aku jadi curiga Abi. Jadi aku periksa panggilan masuk dan keluar, ternyata… ”
Kembali ia terisak.
Sejatinya aku sedang berada di atas kasur empuk, berbalut selimut berbulu lembut yang nyaman. Namun keadaan ini membuatku panas dingin tidak karuan. Aku sesak karena tenggelam di palung laut ketakutan. Rasa bersalah mencabik-cabik habis hatiku. Aku menyerah, tidak mungkin lagi aku mengelak. Kubiarkan ia menyelesaikan semua, aku hanya akan diam. Ini akan serasa interogasi, tapi tak mengapa, apa lagi yang bisa kulakukan?. Kebohongan yang ditutupi dusta adalah lahan subur bagi tumbuhnya semak belukar kebohongan yang mengerikan.
“Abi..”, lanjutya, kini suaranya terdengar lebih pedih.
“Ketika aku lihat panggilan keluar untuk Sweet Mochi lebih banyak dari panggilan untuk yang lain, bahkan lebih banyak dari pada panggilan Abi ke nomor ayah dan ibu abi sendiri, aku jadi GR. Mungkin itu nama kontak untuk nomorku sendiri, mungkin itu adalah panggilan sayang untuku, begitu pikirku.”
“Tapi waktu aku mencoba membuka-buka kotak pesan, aku terkejut, semua pesan yang terkirim ke Sweet Mochi tidak pernah aku terima. Dan yang membuatku menangis hingga sekarang, semua pesan itu sangat mesra. Hanya pantas dikirim ke seorang istri. Balasan dari dia juga hanya pantas dikirim untuk seorang suami.”
Semuanya kini jelas bagiku, rumah tanggaku kini adalah telur di ujung tanduk kerbau gila. Dalam posisi siaga akhir. Aku berdoa dalam hati semoga malam ini perkara halal yang paling dibneci Allah tidak terjadi di kamar ini. Aku hanya menunduk dalam diam yang sungguh pahit menunggu semburan kemarahan berikutnya, sementara isakan tertahan istriku terpantul-pantul di dinding kamar, merobek-robek hening. Air mataku juga perlahan menetes, satu. . .dua. . .lalu menderas. Padahal akhir malam biasanya kami lalui dengan tahajjud berjamaah, bahkan tadi aku masih sempat menyetel alaram untuk bangun malam, dan berniat membangunkan istriku dengan kecupan, tapi yang terjadi sekarang adalah sungguh membuatku malu pada Allah.
Ini semua salahku, bahkan jika sekarang istriku mengambil pisau lalu menikamku, atau agar lebih praktis lampu kamar itu ia pukulkan ke wajahku, aku rela dan sungguh rela menerimanya. Itu bahkan sama sekali bukan balasan setimpal, tidak ada balasan setimpal. 
“Mmaafkan Aku sayang… Abi khilaf.”
Aku tidak yakin apakan permintaan maafku ada artinya, karena aku sungguh sadar bahwa tidak akan semudah itu. Menghancurkan komitmen lalu menutupinya dengan sepotong kata maaf. Namun, aku sungguh terkejut dan bingung harus bereaksi bagaimana ketika istriku malah mendekat, duduk disampingku. Ia menarik nafas dalam-dalam, aku tahu, jika menarik nafas seperti itu ia sedang berusaha membuang sampah apapun yang memenuhi pikirannya.
“Siapa dia?”
Ia bertanya padaku tapi tatapannya lurus ke depan. Ke foto pernikahan kami.
“Sularni, umurnya 29 tahun dan belum menikah.”, aku menarik nafas berat untuk sebuah pengakuan. Sementara tangisku tidak dapat lagi kubendung, rasa bersalah ini, sesal ini, apa lagi yang aku punya?.
“Ia tinggal di Jogja. Ia sering datang ke pengajian yang Abi bimbing di sana, dia.. seirng curhat tentang apa saja.”
“Tapi percayalah dik, tidak sejauh yang kamu bayangkan, tidak terjadi apa-apa antara kami.”
Aku mencoba sedikit meringankan rasa bersalahku dengan membayangkan bahwa memang belum ada apa-apa yang sempat aku lakukan dengan perempuan itu. Perempuan yang sebenarnya bisa saja, bahkan sangat biasa dan tidak bisa dibandingkan dengan istriku, tapi rasa iba dan kepedulian yang tumbuh setiap curhatnya membuatku tertawan. Lalu aku yang mulai berani memanggilnya sayang, dan responnya yang sama. Aku rasa telah jatuh cinta lagi, tapi sungguh belum ada hal-hal buruk yang terjadi, setidaknya belum sempat terjadi.
Ketika aku mencoba mengangkat wajahku dan memberanikan diri menatap wajah istriku, aku tahu bahwa aku baru saja menghancurkan hatinya dengan perkataanku barusan. Memang bukan itu masalahnya, bahkan jatuh cinta saja sudah hal buruk baginya, bahkan lebih buruk dari apapun yang mungkin ia bayangkan tentang aku, suaminya yang shaleh, yang peduli, yang ibadahnya tekun, yang seorang ustadz, dan yang telah menjadi ayah untuk anak yang mati-matian ia rawat.
“Sudah berapa lama bi..?”
“Duu dua tahunan, tapi. . .kami hanya bertemu di pengajian bulanan di sana, dan itupun hanya.. hanya sebatas, aahhh maaf, maafkan Abi dik, Abi khilaf sungguh.”
Istriku tidak bergeming dari posisinya tadi, duduk di sampingku dan menatap lurus ke foto pernikahan kami. Kembali ia menarik nafas panjang. Termenung sesaat kemudian berdiri. Aku menuggu apa yang ia katakan.
“Malam ini aku tidur di kamarnya Kashva.”
Katanya dingin, lalu berjalan ke luar kamar. Aku bisa mendengar dengan jelas, di luar tangis istriku kembali tumpah, sepanjang malam itu.
Aku tertunduk dalam

                                                                     *********
“Ustad, gimana?. Jadi ndak buka puasa di rumahku?”
Aku gelagapan, pertanyaan gadis di depanku membuyarkan lamunanku, lamunan yang panjang dan seram..
“Maaf yah Sweet moch… eh Sularni, Ustad udah bawa bekal dari rumah. Buatan uminya Kashva, mau cobain?  Enak lho”
Raut muka gadis itu langsung berubah. Ada kerut tidak suka di sana.
“Yo wis, kalau ndak mau, Aku pulang dulu, assalamualaikum”
Nada bicaranya penuh kesal. Tapi mendengarnya sungguh membuatku lega.  
Terinspirasi dari Tulisan Asma Nadia “Aku Tidak Mau Cemburu,” bagian dari bukunya “Catatan Hati Seorang Istri”

Nitikan, 14 Agustus 2011 M / 14 Ramadhan 1432 H.



 cat : gambar di atas adalah ilustrasi dari situs lain



Read Full Post
Senin, 09 April 2012 | 11 komentar

Creative Writhinknya Fahd Djibran + Slide.


Alhamdulillah, kemarin saya diberi kesempatan oleh Allah untuk ngikuti training menulis sehari (an) di UMY, thanks for IMM juga ini, dan tentu saja kepala suku IMM PUTM, bung Fahmi, hehe. Dari training itu saya mendapatkan banyak ilmu baru, dan seperti adab menuntut ilmu yang dipakai oleh sahabat2 Rasulullah, siapa yang hadir, harus menyampaikan pada yang tidak sempat hadir”. Nah… kawan-kawan yang baik, saya mau share sedikit (sesuai yang saya tangkap) dari materi “       CREATIVE WRITHINK” nya Fahd Djibran, salah satu penulis terkeren di Indonesia sekarang ini (semoga ini nggak di anggap mencederai hak cipta…. hehe).
·    
  •      Creative Writhink is Be Your Self dan Tuliskan dirimu!!
Inilah salah satu kunci CW, bahka di akhir pembicaraan, Fahd mengulangi hal ini sekali lagi. Jadilah dirimu, temukan apa kegelisahanmu, imajimu, dan tuliskanlah, nggak usah ngikut2 yang lain.  Meskipun bagi pemula (seperti saya ini hehe) tidak apa-apa menjadi plagiator gaya, ngikut2 Andrea Hirata, A. Fuadi, Dee, atau Fahd sendiri, asalkan nanti kamu harus nemukan gayamu sendiri. Karena setiap orang punya kegalauannya sendiri!.
·   
  •       Magnum Opus, mana karyamu??....

Ketika melihat karya-karya hebat orang lain, tanyakanlah pada diri kita sendiri, dimana karyaku??. 5 tahun lagi apa karya yang kupersembahkan untuk dunia?. Dst… 

  • ·         PD…. Narsis jika perlu…. Lalu buktikan ke-PD-an mu!!.

Jangan pernah malu tulisanmu dibaca orang!!, pd aja… kritikan dan bahkan celaan mungkin malah jadi pupuk kreatifitas. So… publish your works!!. Lewat blog, Koran, dan apa aja.

Menanggapi tips ini pas sesi Tanya jawab, ketika orang2 nanya2 tips, jumpa fans bahkan curhat, saya (si Ayub) mencoba menjadi manusia tidak tau malu (ini kan kebaikan hehe), dan narisis luar biadab. Saya bilang gini ke mas Fahd Djibran :

CREATIVE WRITER & KERE AKTIV WRITER
“sepertinya ktia ini punya banyak kesamaan mas Fahd[1], jadi saya berharap mungkin 10 tahun lagi, buku saya dan mas Fahd akan bersanding di rak best sellernya Gramedia… (peserta gerrr) eh eh teman2 saya ini sedang mempraktekan ke-pD-an, oh ya kalau ada yang mau lihat karya sya silakan baca di ayubmenulis.blogspot.com….. so… mas Fahd, liatkan saya ini udah narsis, nah,,, SETELAH NARSIS, trus… apa ??? ”.

Dan dijawablah oleh beliau (yang kurang-lebih begini )..
“setelah PD dan narsis, buktikan kata-katamu. Dan pembuktian itu adalah pembuktian terus menerus, tidak ada akhirnya!.... hari ini kamu boleh pede ‘wah saya ini bloger’, tapi besok buktikan dong, kalau blogmu banyak yang baca, ada yang suka, dan aktif karna kamu slalu berkarya!!”..

  • ·         Jangan anggap pembaca bodoh/ tak bisa imajinasi!!.
Ini juga sangat penting, ketika kita menulis, jangan sampai kita mengannggap pembaca kita tidak bisa berimajinasi sehngga kita terkesan sangat berambisi membuat pembaca “dong” akan apa yang kita imajikan di dalam certia. Biarlah pembaca membebaskan imajinasinya (jika itu fiksi)…. Misalnya certia terkenalnya Ernest Hemingway yang judulnya “Dijual Sepatu Bayi”… teman-teman bisa liat di slide di bawah. Pembaca bisa berimajinasi apa aja ketika membacanya.  Ketika menulis non-fisi pun jangan anggap Cuma kita yang ngerti persoalan yang lagi kita tulis, sehingga terkesan mennggurui dan mendikte…. Ajaklah pembaca “mendiskusikan” tema itu. Seperti Karen Armstong, dia selalu bilang “kita diskusikan” ….

Instead, manfaatkanlah imajinasi pembaca,,, gantung imajinasinya… contohnya di cerepennya Fahd yang judulnya “Suatu Pagi”.
Paragraf pertamanya (kurang lebih) gini :

___Pada suatu pagi aku terbangun dan keget menemukan seorang perempuan asing tertidur di sampingku__
(apa yang teman2 imajikan tentang potongan certia ini??.... dimana kira2 si “aku”?... di sini imajinasi kita “tergantung” kyk lagunya Meli hehe)… ternyata lanjutannya begini

__ kemudian kami berdua turun bersama dari bis kota__
(walaaahhhh di bis kota to???....hehe, pantasan aja dia bangun2 disampingnya ada cwek asing!)
  • ·         menulis = komunikasi, sooo perhatikan aspek2 komunikasi
katanya Fahd, yang harus kita perhatikan antra lain : Content, Context, Coheren, Color…. Contoh paling nyata adalah tulisan2 di belakang truk n di tembok2 yang ada di slide di bawah…
·        


 4 langkah yang di ajarkan (disusulkan) Fahd bagi para penulis ;
1.      Brainstorming = banyak cara, caranya Fahd, tuliskan semua kata yang ada hubungannya dengan tema yang akan dituliskan,
2.      Clustering = seleksi kata2 tadi,,,, coret yang tidak akan dibahas di dalam tulisan teman2 nanti.
3.      Jotting = menulis bebas… tulislah tema itu berdasarkan branstorming tadi tapi… JANGNA SEKALI2 BACA n EDIT YANG DAH DI TULIS…. DON’T LOOK BACK!!... terus aja……
4.      Re-Writing = sentuhan akhir, edit … dan tadaaaa… jadilah tulisanmu!!!.

Hehe, sebenarnya banyak yang disampaikan kemarin, Cuma sya bisa share segini doing…. Kurang lebihnya mohon maaf, dan sekali lagi smua ini IDE DAN KARYANYA FAHD DJIBRAN… bukan saya!! (sema juga tahu…..hehe … sekedar disclaimer ini).

slide ini disediakan oleh Akademi Berbagi,,, setahu saya slah satu personilnya adalah kang Dhanasmoro 


lebih lengkapnya langsung ke situsnya Fahd Djibran yang asli hehe . . . 




[1] (masud say itu sama2 suka Naruto, anak Muhammadiyah, n kesamaan2 nggak penting lainnya ahaha)




Read Full Post
Minggu, 01 April 2012 | 5 komentar

Daftar Isi Blog-Ku

Diberdayakan oleh Blogger.

Kajian, Ebook & Aplikasi Islami?, klik

ayubmenulis.blogspot.com

Kamu yang ke..

Inilah Aku..

Foto saya
Yogyakarta, DIY, Indonesia
mengejar impian sederhana menjadi pecinta semesta terus berusaha menjadi manusia, maklumlah, saya ini separh tanah separuh ruh tuhan menonton dunia dari pojok sejarah

Sering Dibaca

Ayo Berteman