Loading dulu yah..orang sabar disayang Allah sob :)

TRIOLOGI PRINSIP PENDIDIKAN ISLAM


Iftitah
Sebagai individu, seorang muslim diamanahi untuk menjadi khalifah Allah di muka bumi (QS. Al Baqarah: 30 ) dan sebagai hamba  yang menjalani ibadah kepada-Nya ( QS. Az Zariyat:56). Sedangkan sebagai masyarakat, ummat Islam memikul amanah untuk menjadi ummat terbaik yang diharapkan menebar kebajikan dan menumpas kemunkaran di bumi ini    (QS. Ali Imran:110). Selama kehidupan di dunia ini, kedua amanat itulah yang harus diusahakan terlaksana oleh ummat Islam. Di Islam dikenal kaidah bahwa sarana unruk mewujudkan suatu yang wajib, maka hukumnyapun menjadi wajib. Lalu apakah sarana untuk mewujudkan keduanya?,  jawabannya adalah pendidikan. Pada level individu, seorang yang terdidik  akan mampu menjadi abid dan khalifah Allah yang baik. Sedangkan pada level masyarakat pendidikan adalah sendi paling penting  untuk menegakkan sebuah masyarakat yang utama.  Dengan alasan seperti diataslah, pendidikan menduduki kedudukan yang sangat penting dalam ajaran Islam, bahkan perintah pertama yang diterima Rasulullah saw dari Allah swt adalah perintah membaca (QS.Al Alaq:1-5).
Dalam literatur Islam, terma yang sering digunakan untuk mengungkapkan pendidikan antara lain ta’lim yang berasal dari ‘allama-yu‘allimu, tarbiyah dari kata kerja robba-yurobbi, dan ta’dib yang merupakan mashdar dari addaba-yuaddibu. Ketiga istilah ini memiliki makna yang berbeda meskipun semuanya berkaitan dengan pendidikan. Dalam tulisan  ini, kami akan mencoba mengemukakan makna dari ketiga istilah ini sesuai dengan konteks penggunaannya di dalam nash-nash Al­-Qur’an dan As-Sunnah, serta keutamaan atau urgensi pendidikan dalam Islam sesuai dengan makna ketiganya.
Kami membahas ketiga tema ini dimulai dari tarbiyah, ta’lim lalu terakhir ta’dib, karena dalam pandangan kami proses pendidkan pertma yang diakukan pada seorang anak adalah tarbiyah, ta’lim lalu ta’dib. ini bukan berarti bahwa pada proses pendidikan awal yang dilakukan hanya tarbiyah tanpa ta’lim dan ta’dib tapi ketiganya tetap berjalan beriringan namun pada proses awal pendidkan yang dominan dilakukan adalah tarbiyah kemudiab proses ta’lim lalu ta’dib.

Pengertian  dan  Keutamaan  Tarbiyah
Kata tarbiyah atau yang merupakan pecahan dan asal katanya dapat ditemui di dalam nash-nash Al-qur’an ­
24.  Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua Telah mendidik Aku waktu kecil".
Huruf kaf  yang terdapat dalam ayat diatas sering disalah artikan menjadi kaf tasybih atau penyerupaan yang berarti “sebagai mana”. Padahal kaf tersebut sebenarnya bermakna ta’kidil wujud  yakni penegasan atas adanya sesuatu.  Dengan mengartikannya sebagai kaf ta’kidil wujud, maka  jelaslah  bahwa kata rabbayaaniy yang merupakan fiil madhi dari mashdar tarbiyah menunjukkan kepada apa saja yang telah dilakukan oleh kedua orang tua kepada seorang anak semenjak ia kecil yang membuat kedua orang tua tersebut layak untuk mendapatkan kasih sayang dari Allah. Karena merupakan sebab mendapatkan kasih sayang dari Allah maka tentu saja hal tersebut adalah segala sesuatu yang baik, dalam hal ini adalah mendidik.
Tarbiyah juga berarti mengasuh untuk mempersiapkan seorang anak agar cakap menghadapi tantangnan hidup. Dalam surah As-syuara : 18 Fir’aun berkata kepada nabi Musa AS ;
tA$s% óOs9r& y7În/tçR $uZŠÏù #YÏ9ur |M÷WÎ6s9ur $uZŠÏù ô`ÏB x8̍çHéå tûüÏZÅ ÇÊÑÈ
18.  Fir'aun menjawab: "Bukankah kami Telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu.
Nabi Musa AS tingggal bersama keluarga Fir’aun sejak ia kecil sampai ia berumur 18 tahun. Meskipun untuk masalah ketuhanan nabi Musa tumbuh dibawah bimbingan dan pengawasan Allah langsung, namun selama masa tinggalnya bersama keluarga kerajaan Fir’aun  itu, keluarga Fir’aunlah yang mendidiknya tentang kecakapan hidup sehingga ia tumbuh menjadi pemuda yang tangguh.
Akar kata tarbiyah dapat dilacak hingga kata rabaa-yarbuu riban wa rabwah, yang berarti tumbuh berkembang dan subur. Dalam Al-Quran kata rabwah berarti bukit-bukit yang tanahnya subur untuk tanaman, lihat QS. Al Baqarah : 265. Sedangkan kata ribaa bermakna bertambah, tumbuh, lihat QS. Ar Rum : 39.
Dengan demikian, mendidik dalam istilah tarbiyah juga bermakna menumbuhkan, mengembangkan, dan menyuburkan atau lebih tepatnya mengondisikan sifat fitrah seorang anak sehingga fitrah itu tumbuh subur dan berkembang.  Pendidikan tarbiyah mempersiapkan fitrah seorang anak agat tidak terkontaminasi oleh virus-virus kehidupan yang merusak fitrah. Oleh karena itu merujuk pada QS. Al Isra: 24 dan As Syuara:8 maka pendidikan tarbiyah seharusnya dilakukan di dalam lingkungan keluarga oleh keluarga si anak sendiri terutama kedua orang tua. Perhatikan hadist berikut :
عن أبي هريرةَ رضي اللّهُ عنه قال: قال النبيُّ صلى الله عليه وسلم «كلُّ مولودٍ يولَدُ على الفِطرةِ ، فأبَواهُ يُهوِّدانهِ أو يُنصِّرانِه أو يُمجِّسانِه                                                                                                       
Dari Abu Huraiah RA, ia berkata bahwa Rasulullah saw pernah bersabda “ setiap anak diahirkan dalam keadaan fitrah, lalu kedua orang tuanyalah yang  meyahudikan, menashranikan atau memajusikannya. (Muttafaqun Alaih. Shahih Al Bukhari no 1361, )
Dalam hadist diatas dikatakan bahwa orang tua sangat bertanggung jawab dalam hal menjaga kemurnian fitrah seorang anak. Merekalah yang mengarahkan seorang anak untuk  meny impang dari fitrah yang awalnya berserah diri pada Allah dalam Islam sesuai perjanjian di alam rahim menjadi Nasrani, Yahudi atau bahkan pnyembah api alias Majusi. Pada konteks tarbiyah inilah Allah memerintahkan kita untuk melindungi keluarga dari api neraka, lihat QS At Tahrim:6.
Di dalam Al-Qur’an diceritakan bagaiman pendidikan yang pertama dilakukan adalah tentang tauhid atau penyembahan dan penyerahdirian hanya kepada Allah SWT. Misalnya di surah Al Baqarah : 132 Allah swt berfirman ;

132.  Dan Ibrahim Telah mewasiatkan Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah Telah memilih agama Ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam".
Bahkan menjelang wafatnya nabi Yakub AS masih sempat bertanya kepada anaknya untuk menegaskan tarbiyah tauhid. Peristiwa itu diabadikan di ayat berikutnya ;
133.  Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia Berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan kami Hanya tunduk patuh kepada-Nya
Kedua ayat terakhir diatas menunjukan bahwa aspek paling utama dalam pendidikan tarbiyah adalah penjagaan fitrah. Dengan tarbiyah seorang anak di persiapkan untuk  menghadapi kerasnhya hidup yang kadang menggerus potensi fitrah manusia. Selain itu tentu saja kecakapan hidup juga ditanamkan selama proses tarbiyah di lingkungan keluarga ini.
Jika melihat ayat-ayat hadist serta penjelasannya diatas jelaslah bahwa tarbiyah adalah proses pendidikan yang dilakukan sejak objek didik masih kecil, dan terus bertahap sampai ia dewasa. Menurut Al-asfahani kata rabba yang merupakan asal kata tarbiyah berarti membentuk seseuatu secara bertahap. proses ini, sebgaimana yang seharusnya dilakukan oleh orang tua merupakan  proses pengembangan dan bimbingan yang  meliputi jasad, akal, dan jiwa, yang dilakukan secara berkelanjutan, dengan tujuan akhir si anak didik tumbuh dewasa dan hidup mandiri di tengah masyarakat. proses tarbiyah dilakukan dengan bijak dan dilaksanakan secara bertahap dari yang mudah kepada yang sulit.
Akhirnya, dapat disimpulakna bahwa urgensi atau  keutamaan  pendidikan dalam Islam seseuai konteks istilah  tarbiyah adalah sebagai proses paling awal untuk membentuk pondasi seorang anak. Dengan pendidikan tarbiyah yang matang seorang anak akan mampu mempertahankan fitrahnya dan siap menerima proses ta’lim dan ta’dib. Proses tarbiyah mematangkan akal seorang anak agar ia mampu menangkap, mempelajari dan menganalisa ilmu yang diberikan kepadanya dengan benar. Jiwanya dibentuk agar siap menjalani penggodokan moral dan adab.
Pengertian dan Keutamaan Ta’lim
Ta’lim berasal dari kata alima-ya’lamu ilman yang di dalam kamus Al Munawwir diartikan mengerti, mengetahui, merasakan dan mengerti benar-benar. Kata alima kemudian dimasukkan kedalam wazan fa’ala (dengan tasydid pada ain fiilnya), sehingga dari  kata kerja intransitif (lazim) kata ini berubah menjadi kata kerja transitif (muta’addi). Dengan perubahan wazan ini, maka arti dari allama yuallimu ta’liman kemudian berubah menjadi memberi pengertian, memberitahukan, memberikan pengetahuan dan pemahaman yang benar.
Dari penjelasan mengenai makna allama di atas, maka kita dapat merumuskan makna ta’lim yang merupakan mashdarnya sebagai sebuah usaha pemberian atau penyampian pengertian, pengetahuan dan ketrampilan. Maka proses ta’lim adalah  proses pemberian pengatahuan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab, sehingga diri manusia itu menjadi suci atau bersih dari segala kotoran sehingga siap menerima hikmah dan mampu mempelajari hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya ( ketrampilan). Mengacu pada definisi ini, ta’lim, berarti adalah usaha terus menerus manusia sejak lahir hingga mati untuk menuju dari posisi ‘tidak tahu’ ke posisi ‘tahu’.  
Terma ta’lim untuk pendidikan banyak kita jumpai dalam Al Qur’an dan As Sunnah, bahkan ayat ayat yang pertama diturunkan kepada Rasulullah memakai kata ini.

1.  Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,2.  Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.3.  Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,4.  Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam 5.  Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Surah Al-Alaq ayat 1-5 adalah ayat yang sering dijadidkan argumen naqli bahwa Islam memang sangat memperhatikan pendidkan, karena ayat-ayat yang pertama turun ternyata menggambarkan proses pendidikan. Ayat ini menggunakan terma ta’lim sebanyak dua kali untuk menunjukkan bagaimana Allah memberi manusia pengetahuan dan pemahaman yang benar.
Ayat diatas memerintahkan manusia untuk “membaca” segala seseuat yang diciptakan oleh Allah yang maha khalaq. Penggunaan kata khalaq sebagai sifat dari Allah (Robbika) pada ayat tersebut menunjukkan bahwa yang diperintahkan untuk dibaca adalah segala seseuatu yang diciptakan oleh Allah swt. Dengan demikina pengertian iqra’ tidaklah sesempit membaca teks, tapi berarti membaca gejala alam (sains), gejala sosial dan manusia (ilmu-ilmu sosial dan humaniora), dan tentu saja nash-nash agama (ulumu ad-din).  Indikasi lain yang menunjukkan pemaknaan ta’lim seperti ini adalah dua ayat terakhir mengajarkan manusia dengan pena, mengajarkan apa saja yang belum ia (manusia) ketahui.  Jelas bahwa materi ta’lim adalah ilmu-ilmu yang dapat disebarluaskan dengan pena, sehingga mereka yang belum mengetahuinya akan menjadi tahu setelah membacanya.
Terma ta’lim di dalam Al Qur’an digunakan sebanyak 41 kali dengan berbagai arti, namun semuanya mengarah pada pengertian yang telah kami jelaskan di atas, jadi tidak perlu memaparkan semuanya. Ayat-ayat yang menggunakan kata ta’lim antara lain surah Al Baqarah : 151,

151.  Sebagaimana (Kami Telah menyempurnakan nikmat kami kepadamu) kami Telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.
Pada ayat ini, Allah swt menyatakan bahwa salah satu bentuk nikmat yang Ia berikan kepada hambanya adalah ia mengutus kepada mereka Rasul yang menta’lim mereka mengenai isi kitgab, hikmah atau kebijaksanaan dan segala sesuatu yang belum diketahui oleh hambaNya. Keadaan bodoh (jahl) akan banyak hal yang perlu diketahui dalam hidup ini adalah penderitaan yang nyata. Manusia selalu dihantui pertanyaan filosofis mengenai makna keberadaanya di muka bumi, dari mana ia berasal, dan kemana ia setelah mati. Rasul yang diutus oleh Allah bertugas untuk menta’lim manusia memberi tahu, mengajari, dan memberi pengertian yang benar tentang jawaban-jawaban dari pertanyaan itu. Di dalam kitab yang dibawa para Rasul juga terdapat jawaban mengenai masalah sains maupun humaniora yang mengganjal pemikiran manusia. Maka ta’lim dari Rasul adalah nikmat yang tak terhingga.
Kata allama kata kerja adri ta’lim juga digunakan dalam Al Baqarah : 31 untuk menggambarakn bagaiman Allah swt menambah pengetahuan Adam AS dengan membuatnya mengetahui nama segala seseuatu yang bahkan Malaikatpun tidak mengetahuinya.

31.  Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"
Nama segala hal mencakup pengetahuan yang sangat luas, sehingga seperti telah kami jelaskan di atas, bahwa ta’lim adalah proses penambahan pengetahuan sehingga manusia, seorang anak objek didik memiliki wawasan yang benar tentang segala aspek hidup.
Dalam ayat lain dikatakan bahwa nabi Sulaiman berkata kepada rakyatnya ;

16.  dan dia berkata: "Hai manusia, kami Telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) Ini benar-benar suatu kurnia yang nyata"
Kata ullimnaa adalah kata kerja madhi majhul dimana pelakunya tidak diketahui, namun dari konteksnya terlihat jelas bahwa sang muallim adalah Allah swt sendiri. Terma ta’lim pada ayat di atas digunakan berarti mengajari cara melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui sama sekali. dalam hal ini cara berkomunikasi dengan burung-burung.
Pengertian yang sama dapat diihat pada surah Ar Rahman ayat 2 dan 4.
.  Yang Telah mengajarkan Al Quran. 4.  Mengajarnya pandai berbicara.
Yakni dari keadaan tidak mengetahui, tidak memiliki ilman tentang Al Quran dan bayyan (penjelasan penjelasan), seorang yang telah dita’im kemudian menjadi tahu dan paham dengan tepat.
Dari penggunaan kata ta’lim pada ayat diatas, kita mendapat pengertian bahwa terma ta’lim memang digunakan untuk proses pendidikan yang bersifat “pergerakan” dari “tahu” ke pada keadaan “tahu”. Lebih bersifat penambahan ilmu.  
Proses ta’lim dapat dilakukan oleh orang lain diluar lingkungan keluarga dan dengan metode yang bermacam-macam. Misalnya baca tulis sebagaiman disebutkan dalam QS. Al Alaq:1-5, metode dialog atau diskusi QS. Al Kahfi:66 atau melalui metode ceramah seperti cara Rasulullah menta’lim para sahabatnya dan masih banyak lagi.
Rasulullah saw bersabda
عَنْ عِيَاضِ بْنِ حِمَارٍ الْمُجَاشِعِيِّ ، أَنَّ رَسُولَ اللّهِ قَالَ، ذَاتَ يَوْمٍ فِي خُطْبَتِهِ: «أَلاَ إِنَّ رَبِّي أَمَرَنِي أَنْ أُعَلِّمَكُمْ مَا جَهِلْتُمْ مِمَّا عَلَّمَنِي
Dari Iyadh bin Himaar Al Mujaasyi’iy RA bahwa pada suatu hari Rasulullah saw pernah bersabda dalam khutbahnya “ketahuilah bahwa Tuhanku menyuruhku menta’lim kalian tentang segala seseuatu yang kalian tidak ketahui sebagaimana telah Ia ajarakn padaku.... ”
Hadist ini sebenarnya masih panjang, sambungannya adalah pemberitahuan atau pengajaran Rasulullah saw kepada para sahabat yang mendengarkan beliua tentang beberapa perkara yang disampaikan Allah swt kepadanya untuk ia sampaikan kepada ummatnya.
Dari .penjelasan di atas, jelaslah bahwa pendidikan dalam konteks terma ta’lim memiliki urgansi atau keutamaan tersendiri yakni untuk membuka wawasan si anak atau objek didik. Dalam proses ta’lim ini ia diberi pemahaman yang benar, dan pengetahuan yang luas tentang banyak hal. Mulai dari ilmu-ilmu agama, humaniora, sampai sains. Oleh karena itu  proses ta’lim lebih efektif dilakukna ketika proses tarbiyah telah berjalan baik, dimana anak atau objek didik telah siap menerima tambahan wawasan dan telah memiliki fitrah yang lurus untuk menganalisa semua pengetahuan, pemahaman, atau ilman baru yang diperolehnya.
Hasil akhir dari ta’lim sesuai dengan isim yang terbentuk dari akar katanya adalah ilman. Menurut Al Asfahani ilman adalah (ketika pemahaman) mencapai hakikat seseuatu. Sedangkan objek didik yang  dita’lim diharapkan menjadi seorang ulama’ , seorang yang menguasai dengan benar banyak ilmu atau memiliki spesifikasi dimana ia ahli dalam satu bidang ilmu tertentu.
Jika pendiddkan ta’lim berjalan dengan baik,  maka ta’dib akan mudah untuk dilakukan karena seorang yang mengetahui suatu yang benar dan memahaminya akan bertindak dengan benar.
Ta’dib
Kata ta’dib merupakan bentuk masdar dari kata addaba-yuaddibu-ta’diban. Dalam kamus almunawwir asal katanya yakni addaba diartikan mendidik, memperbaiki, melatih berdisiplin. Sedangakn  muaddaban berarti seorang yang sopan, beradab dan terdidik. Dengan demikian, ta’dib berarti mengajarkan sopan santun. Istilah  ta’dib diartikan sebagai proses mendidik yang di fokuskan kepada pembinaan dan penyempurnaan akhlak atau budi pekerti anak sebagai objek didik. Dasar konsep ta’dib dalam nash dapat dilihat dadalm salah satu hadist Rasulullah saw berikut ini ;
ادبني ربي فاحسن تادبي
Rasulullah saw bersabda “Tuhanku telah mendidikku (menta’dibku) dan dengna demikian menjadikan pendidikanku yang ternaik. (HR. Ahmad)
Dalam hadist di atas, dikatakan bahwa adab dan akhlaq Rasulullah merupakan hasil ta’dib dari Allag swt langsung. Oleh karena itu tidak heran jika kemudian Allah swt menjadikan beliau sebagai suri teladan bagi ummatnya.
Dalam hadist lain dikatakan :
عن أبي موسى الأشعريِّ رضيَ الله عنه قال: قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: «إِذا أَدَّبَ الرجلُ أمَتَهُ فأحسنَ تأديبَها
Dari Abi Musa Al Asy’ariy  RA ia berkata, Rasulullah saw pernah bersabda “jika seorang lelaki mendidik (ta’dib)putrinya lalu ia memperbaiki pendidikannya ”
هذا أدَّبْتُهُ أُمُّهُ وأنْتَ أدَّبْتَكَ أمُّكَ
Dia telah didik oleh ibunya dan kamu telah dididik oleh ibumu (HR. Muslim, no 66)
Jadi keutamaan pendidikan dalam konteks ta’dib adalah sebagai proses prnyempurnaan dari ta’lim dan tarbiyah. Hasil akhir pendidikan yang diharapkan dalam Islam adlah terciptanya insane kamil atau manusia yang utuh, baik dari segi fitrahnya yang terjaga, pengetahuannya yang luas dan budi pekertinya luhur. Pada proses ta’dib nilai-nilai kebabikan ditransferkan kepada anak didik sehingga dalam pendidikan yang ada bukan hanya transfer of knowedge tapi yang terpenting adalah transfer of value. Kita semua tentu sepakat bahwa orang seperti Gayus Tambuban tentulah sangat cerdas, namun sayang sekali, ia bukan seorang yang muaddab maka lihatlah yang ia lakukan !.  
Ikhtitam
Dari telaah etimologis maupuan analisa terhadap nash-nash yang berkaitan dengan pendidikan dengan memkai terma tarbiyah, ta’lim dan ta’dib dapat disimpulkan bahwa pendidikan sangat utama dalam Islam. Tarbiyah menjaga fitrah seorang anak didik dan mempersiapkannya untuk proses pendidkan berikutnya, lalu dengan ta’lim ia akan memiliki pengetahuan dan pemahaman yang benar, dan terakhir ta’dib membentuknya menjadi seorang yang beradab. Dengan terbentuklah insane kamil yang mampu menjadi abid dan khalifah untuk memakmurkan bumi Allah. 

Masukkan alamat email kamu disini:

Posting Keren Lainnya : Bloggeron

0 komentar:

:f :D :x B-) b-( :@ x( :? ;;) :-B :| :)) :(( =(( :s :-j :-p :-o :-g :-x

Posting Komentar

Daftar Isi Blog-Ku

Diberdayakan oleh Blogger.

Inilah Aku..

Foto saya
Yogyakarta, DIY, Indonesia
mengejar impian sederhana menjadi pecinta semesta terus berusaha menjadi manusia, maklumlah, saya ini separh tanah separuh ruh tuhan menonton dunia dari pojok sejarah

Sering Dibaca

Ayo Berteman