Loading dulu yah..orang sabar disayang Allah sob :)

IGNAZ GOLDZIHER DAN PENGHIANTANNYA KEPADA HURUF ALIF LAM


Orientalis dari Hungaria ini disebut oleh Prof. KH. Ali Mustafa Yakub sebagai “kejutan akhir abad 19”, betapa tidak ia membuat penggiat ilmu hadis terkejut dengan metode dan tesis-tesisnya yang tertuang di dalam Muhammadanische Studien, (Studi atas ajaran Muhammad) Dari judulnya saja buku karangan Syaikhul Mustasyrikin itu sudah menunjukan sikap penulisnya terhadap Islam. Baginya (setidaknya dari penggunaan kata Muhammadanisme) Islam tidak lebih dari ajaran-ajaran seorang Arab tidak jelas yang muncul di Jazirah gersang Arab, tempat bid’ah-bid’ah Kristen semisal Arianisme tumbuh subur.  

Di dalam Muhammadanische Studien, orientalis yang pernah nyantri di al-Azhar ini menolak criteria-kriteria kesahihan hadis yang telah ditetapkan oleh para ulama. Seperti yang diketahui oleh siapapun yang belajar ilmu hadis, criteria sahihnya hadis setidaknya ada empat (atau lima), yakni ketersambungan sanad sampai ke Nabi saw, jalur sanadnya semuanya adalah orang-orang yang udul dan kuat hafalannya, hadis itu tidak bertentangan dengan riwayat lain yang lebih kuat apa lagi al-Qur’an (syadz) dan tidak terdapat cacat-cacat tersembunyi. Bagi Goldziher, semua criteria ini lemah secara metodologis dan terlalu menekankan pada kritik sanad dan melupakan kritik matan. Sebagai alternative, Goldziher menawarkan kritik hadis yang oleh Musthafa al-Azhami disebut hanya mengkritik matan hadis saja.

Sebenarnya kritik matan telah ada sejak awal perkembangan ilmu hadis, bahkan Sayyidah Aisyah diriwayatkan kerap mengkrtik matan-matan hadis dari para sahabat yang lain, tetapi bagi Goldziher, semua itu bukan kritik matan. Kritk matan ala Goldziher memakai pisau cincang analisis sejarah, social , politik, dan budaya. Sebagai hasil dari penelitiannya, ia menyimpulkan bahwa banyak hadis-hadis di dalam Shahih Bukhari yang tidak autentik alias daif bahkan maudu’. Lebih lanjut, para ulama periode awal semisal Imam az-Zuhri adalah pembuat hadis dan ia membuatnya sebagai persembahan kepada khalifah Abdul Malik bin Marwan dari dinasrti Umayyah.  Khalifah Abdul Malik sendiri memerintahkan az-Zuhri untuk membuat hadis sebagai senjata untuk menghadapi oposisi Ibnu Zubair di Mekkah.  Kesimpulan itu ditariknya dari analisa terhadap hadis di dalam Shahih Bukhari yang menyatakan bahwa hanya ada tiga masjid yang diziarahi yakni Masjidil Haram, Nabawi, dan Aqsha. Konon hadis ini adalah pesanan Abdul Malik bin Marwan sebagai penguasa Syam (dimana masjidil Aqsha berada) untuk mengerahkan ziarah kaum muslimin dari Mekkah ke Syam, sebagai bagian dari siasatnya melawan Ibnu Zubair.

Pendapat di atas tentu saja telah dibantah oleh banyak ulama, sebut saja al-Azhami dan as-Shiba’I, jadi saya yang sama sekali bukan ulama ini tidak akan ikut campur. Bagian yang hendak saya sampaikan disini adalah apa yang dapat kita sebut “skandal alif lam ma’rifah”. Kasus ini sebenarnya saya dapatkan dari diskusi (lewat buku) dengan K.H. Ali Mustafa Yakub, tapi cerita ini membuat saya semakin yakin akan kejeniusan Goldziher.

Sebelumnya, mari kita mengulang pelajaran nahwu dasar tentang alif lam ma’rifah. Di dalam bahasa Arab, suatu kata dapat dibedakan menjadi kata yang nakirah dan ma’rifah dimana salah satu perbedaannya adalah adanya partikel AL di awal kata makrifah. Nakirah berarti tidak definitive dan tidak merujuk pada suatu hal tertentu sedangkan makrifah adalah kata yang merujuk pada suatu hal tertetnu atau definitive dan diketahui oleh komunikator dan komunikan.  Sebagai contoh, jika saya dan teman-teman telah maklum bahwa setiap ahad sore adalah jadwal mengajarnya ustad Bejo, lalu pada ahad sore datanglah ustad Bejo, dan saya berteriak memanggil teman-teman “ja a al-ustadz”, maka kata al-ustadz langsung difahami oleh teman-teman saya bahwa ustad yang dimaksud adalah ustad Bejo.  Sebaliknya, jika saya berkata “ja a ustadzun”, maka ustad yang dimaksud bisa siapa saja.

Kaidah seperti di ataslah yang dihianati Goldziher, orientalis alumni Azhar itu. Ketika ia mengutip testimony az-Zuhri, Goldziher menuliskan “inna haulai al-umara akrahunaa ‘ala kitabah ahadist”. Di dalam kutipan tersebut huruf Alif Lam telah dibuang dari kata ahadist, sehingga dapat difahami bahwa para pemimpin telah memaksa Imam az-Zuhri untuk menulis hadis-hadis, yakni mengarang-ngarang hadis, karena kata hadis dalam kalimat itu tidak merujuk pada hal tertentu alias nakirah.  Padahal dalam catatan Ibnu Sa’ad dan Ibnu Asakir, kalimat az-Zuhri itu sebenarnya berbunyi “inna haulai al-umara akrahunaa ‘ala kitabah al-ahadist”, perhatikan bahwa kata ahadist-nya memakai Alif Lam. Maka dapat difahami dari kalimat nukilan asli dari Ibnu Saad dan Ibnu Asakir bahwa hadis-hadis yang dimaksud az-Zuhri adalah hadis yang sudah dimaklumi secara difinitiv yakni hadis-hadis yang berasal dari Nabi saw yang belum terkumpul dalam satu buku.

Penghianatan Goldziher terhadap alif lam itu lah yang pernah disampaikan Mustafa as-Shiba’I kepada  Joseph Schacht ketika mereka berdiskusi. Awalnya Schacht mengelak, tetapi as-Shiba’I tetap mengejar dan menanyakan dimana prinsip-prinsip ilmiyah dan kenyataan sejarah yang katanya dijunjung tinggi Goldziher dan orientalis lainnya?, mengapa ketika ia berbicara tentang Imam az-Zuhri semuanya ditinggalkan?.  Di akhir diskusi wajah Schacht pucat menyaksikan penghianatan gurunya itu. Silakan simak penuturan lengkap as-Shiba’I di dalam as-Sunnah wa Makanatuhu fi Tasyri’ al-Islami.

WALLAHU A’LAM

Saya menulis artikel ini  dengan bermodal Buku yang rinciannya….:
Judul : Kritik Hadis
Penulis : Prof. K.H Ali Mustafa Yakub
Penerbit : Pustaka Firdaus, Cetakan Kedua (2011)

dan bacaan lain yang dah lupa apa aja hehe.... 

Masukkan alamat email kamu disini:

Posting Keren Lainnya : Bloggeron

Daftar Isi Blog-Ku

Diberdayakan oleh Blogger.

Inilah Aku..

Foto saya
Yogyakarta, DIY, Indonesia
mengejar impian sederhana menjadi pecinta semesta terus berusaha menjadi manusia, maklumlah, saya ini separh tanah separuh ruh tuhan menonton dunia dari pojok sejarah

Sering Dibaca

Ayo Berteman