Loading dulu yah..orang sabar disayang Allah sob :)

Ka’bah Im In Love (forget Eifel !)



Assalamu alaikum, hai kamu. yah kamu yang membaca tulisan ini, tidak usah menoleh kiri kanan begitu, memang kamu yang kupanggil. Kawan, mari luangkan sedikit waktu berbicara tentang haji, salah satu tiang agama ini. Semoga menulisku dan membacamu dinilai pahal oleh-Nya.
our beloved qiblah
Haji sebagai ritual setidaknya dapat kita lihat dari dua sudut pandang. Dari sisi fiqhiyahnya, dimana kita akan berbicara tentang sekelumit rukun-rukun serta syarat yang membuat haji dapat dikatakan sah.. Sisi lainnya adalah dari kaca mata hikmahnya, makna filosofis ibadah haji, kita kan berbicara tentang hikmah-hikmah yang perlu direnungi seputar ibadah ini.
Di sini kita akan berbicara tentang sisi filosofis ibadah haji. Menurutmu apa makna filosofis yang terkandung dalam ibadah haji?. Kalau tadi kamu sempat membaca judulku, kamu mungkin bisa menebak hikmah yang saya tangkap dari ritus haji. Ya, cinta. Ibadah haji adalah sarana mendapatkan, menguatkan, lalu membuktikan cinta. Cinta dari dua entitas. Cinta dari bumi dan langit, cinta dari Sang Khaliq yang Maha Mulia dan makhluqnya yang  Ia muliakan sebagai khalifah. Cinta dari Allah dan sesama manusia.
Tentang dua cinta ini, tentu kamu teringat akan salah satu firman Allah pada surah Ali Imran ayat ke 112. Di ayat sebelumnya Allah menitahkan agar kita menjadi khairul ummah, komunitas terbaik yang menyeru pada cahaya kebenaran Allah. Setelah itu Allah menggambarkan bagaiman kaum Ahlul kitab akan terhina dimanapun mereka berada jika mereka tidak berpegang pada dua tali, hablun minaAllah dan hablun minannas. Allah Yang Maha Bijaksana tentu tidak menyebutnya tanpa alasan. Ia menghendaki agar kita mengambil pelajaran. Dan salah satu pelajarannya adalah bahwa ada dua cinta yang harus kita miliki untuk menjadi yang terbaik. Hablun min Allahh dan hablun min annas, dua tali cinta yang membawamu menjadi ummah terbaik.
 Ibadah haji adalah ajang untuk memperkuat keduanya. Di dalam sebuah hadis qudsi Allah swt telah mengajarkan kepada kita bahwa jika menginginkan cintanya lakukanlah yang wajib dengan konsisten lalu ikuti dengan sunnah sebanyak-banyaknya. Ibadah haji bisa dikatakan kewajiban yang paling tidak mudah untuk dilakukan. Pengorbanan fisik dan biaya yang tidak sedikit dibutuhkan di sini, tapi bukankah kata pengorbaanan selalu beriringan dengna cinta?. Apalah arti kelelahan dan pengeluaran harta jika dibandingkan dengan cinta Sang Maha Kaya yang Maha Mencukupi?. Kemudian rasa cinta itu semakin diperkuat oleh munajat-munajat yang langsung di depan Ka’bah. Raja’ dan khauf bersatu padu dalam setiap pengakuan akan khilaf dan doa, tertumpah langsung di depan Ka’bah.
Ibadah haji juga memliki dimensi sosial yang menjadi penghubung kita dengan cinta pada sesama. Dalam pakaian ihram strata sosial dan semua embel-embel keduniaan yang terkadang menjadi penghalang cinta pada sesama disingkirkan sudah. Semua perbuatan buruk yang kadang mencederai cinta seperti bertengkar, atau fusuq yang lainnya dilarang, dibuang jauh. Cinta pada istri juga menemukan perwujudan rohaniahnya yang lebih hakiki ketika syahwat badaniyahnya tidak mungkin dilakukan. Belum lagi sembelihan yang kemudian diberikan pada kaum tidak mampu. Bahkan cinta pada makhluk selain manusiapun dipupuk dengan larangan membunuh binatang atau merusak pepohonan tanah haram.
Ah maaf kawan terlalu panjang saya mengurai, semoga tidak sia-sia dan kamu bisa menangkap poinnya. Ibadah haji adalah perayaan cinta yang agung. Cinta pada Allah swt juga kepada sesama manusia, dan makhluk hidup lainnya. Pantaslah jika sekembalinya dari haji Kiyai Dahlan lalu mendirikan organisasi kita ini, organisasi penebar cinta kasih. Beliau mengalaminya ; Ka’bah I am in love.

Masukkan alamat email kamu disini:

Posting Keren Lainnya : Bloggeron

0 komentar:

:f :D :x B-) b-( :@ x( :? ;;) :-B :| :)) :(( =(( :s :-j :-p :-o :-g :-x

Posting Komentar

Daftar Isi Blog-Ku

Diberdayakan oleh Blogger.

Inilah Aku..

Foto saya
Yogyakarta, DIY, Indonesia
mengejar impian sederhana menjadi pecinta semesta terus berusaha menjadi manusia, maklumlah, saya ini separh tanah separuh ruh tuhan menonton dunia dari pojok sejarah

Sering Dibaca

Ayo Berteman